FF LuTae (Luhan-Taeyeon) – Purse (Oneshoot)

Purse - LuTae

[Oneshoot]

Title : Purse

Author : Oh Eun Hye

Rated : T (PG-15)

Genre : romance, comedy

Length : Oneshoot

Main cats : SNSD Taeyeon, EXO Luhan

Support cats : you will find other cats in the story

Disclaimer : all the main cats in this story don’t belong to the author. The author is only entitled to the story belongs to the author who in import directly from my brain.

Author note’s : typo (s) scatted. For those who don’t like the cats here in, please don’t vilify or bash the cats! Author never allow to anyone plagiarism for this Fanfiction. And remember to give a comment. Don’t be a silent readers.

 

Cuaca cerah dengan sinar matahari yang hampir-hampir memanggang sebuah kota bernama Seoul ini tak menyurutkan kepadatan yang memenuhi sebuah taman. Hari memang beranjak siang, tapi kepadatan tak tampak berkurang. Suara riang milik bocah-bocah yang tengah berlarian, bermain bola, atau tertawa bersama teman sebaya membuat taman ini amat ramai. Dan teriakkan anak-anak begitu nyaring saat tukang ice crema datang.

 

“Kyaaa! Ice cream!!”

“Eomma! Aku mau ice cream!”

“Itu ice cream.. pengen!”

“Eomma! Ayo belikan!”

 

Nah, itulah yang di katakan anak-anak saat melihat tukang ice crema itu. Yeoja yang sibuk dengan novelnya itu sedikit teralihkan konstrasinya. Mata coklatnya yang sedari tadi sibuk dengan berbaris-baris tulisan ia alihkan. Yeoja itu sepertinya tertarik juga untuk membeli ice cream di hari yang panas ini.

Setelah membeli se-cup ice cream, yeoja itu beranjak untuk kembali ke tempat duduknya yang berada di bawah pohon tadi.

 

BRUKH!

 

“Appo!” jerit yeoja itu saat bokongnya menghantam tanah dengan mantap. Pun tak jauh beda dengan orang yang di tabrakknya tadi. “Mi-mianhae, tuan. A-aku tak sengaja.” Buru-buru ia bangkit berdiri dan membungkuk di depan orang yang di tabraknya. Meminta maaf.

“Gwenchana, lain kali hati-hati.” Sahut orang yang di tabrakknya. Ternyata ia seorang

namja itu, ikut berdiri.

“Ne, tuan. Sekali lagi, mianhamnida.” Lagi-lagi yeoja itu membungkuk.

“Sudahlah. Aku juga salah. Mian, ne.”

“Ne tuan.”

“Kalau begitu, aku permisi.” Ucap namja itu dan segera berlalu. Meninggalkan yeoja itu yang masih terdiam di tempat.

“Eh? Apa ini?” yeoja yang bernama Kim Taeyeon itu memungut sesuatu benda yang tergeletak di tanah. “Dompet? Apa mungkin ini dompet tuan cantik tadi?” gumamnya tak yakin. Taeyeon —begitu ia sering di sapa— membuka dompet coklat itu. Di sana hanya ada kartu kredit dan sejumlah uang. Tak ada KTP, SIM, atau kartu identitas apapun. Taeyeon heran.

Yakin dompet itu adalah milik tuan yang bertabrakkan dengannya tadi, Taeyeon mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari sosok cantik —menurutnya— itu. Saat di lihatnya si tuan cantik itu sedang membuka mobil, ia segera berlari.

 

“YAAA! TUAN CANTIIIK! DOMPETMU KETINGGALAAAAN!” teriakkannya membahana. Membuat orang memandangnya dengan heran. Apalagi frasa ‘tuan cantik’ yang tadi ia teriakkan. Namun, sayang, orang yang di teriakkinya tak mendengar. Malah masuk ke dalam mobil dan melaju kencang.

“TUAN CANTIIK! CHANKAMAAAAN! DOMPET MU TERTINGGAAL!”

 

WUUUUSH!

 

Bagaikan angin, mobil merah itu melaju pesat. Meninggalkan Taeyeon yang sedang melambai-lambaikan tangannya. Menunjukkan sebuah dompet berwarna coklat. Taeyeon merasa usahanya tak berhasil kini mem-pout-kan bibirnya. Mata coklatnya memandang dompet itu.

 

“Huh, ya sudahlah. Lain kali aku akan mengembalikannya.” Ujar Taeyeon seraya memasukkan dompet itu ke dalam tasnya. Dan segera beranjak pulang.

 

.

.

 

Suasana salah satu kelas di Kirin Senior High School tampak tenang. Karena Heechul Songsaemin sedang mengajar matematika. Tiba-tiba pintu di ketuk orang.

 

“Permisi. Boleh bicara sebentar dengan Heechul songsaemin?” ujar orang itu yang ternyata Donghae Songsaemin. Heechul menoleh.

“Sebentar ya, anak-anak. Jangan ribut.” Pesan Heechul songsaemin saat akan keluar. “Ohya, kerjakan soal di halaman 103, ne. Songsemin keluar dulu.” Lanjut Heechul songsaenim. Lalu beranjak keluar untuk menemui Donghae songsaenim.

 

Beberapa saat kemudian….

 

Heechul songsaemin datang kembali tapi bersama seorang murid namja. Murid-murid yang awalnya semerawut, kini duduk rapi di bangku masing-masing. Seluruh pasang mata menatap asing pada sosok yang berdiri pasti di samping Heechul songsaemin. Seorang namja tampan atau lebih tepatnya err, cantik itu sepertinya murid baru di sini. Karena sosoknya yang asing bagi anak-anak.

 

“Nah, anak-anak, ini teman baru kalian. Dia baru pindah dari china kemarin dan mendaftar sekolah di sini. Semoga kalian bisa berteman dengannya. Nah, silahkan perkenalkan dirimu.” Suruh Heechul songsaemin pada namja itu.

“annyeong haseyo, Xi Luhan imnida. Mohon bantuannya.” Ucapnya sambil membungkukkan badan.

“cantiik dan tampan..” puji beberapa murid sambil memandang kagum pada Luhan.

“nah, Luhan. Kau boleh duduk di samping Oh Sehun. Oh Sehun tolong angkat tanganmu.” Suruh Heechul songsaenim pada Sehun yang segera mengangkat tangan kanannya.

“nah, kita lanjutkan pelajaran tadi..”

“ne, songsaemin.”

 

 

KRIING… KRIING…

 

Suara bell yang menandakan waktu istirahat tiba berbunyi nyaring. Membuat beberapa siswa tersenyum senang. Leeteuk songsaenim yang kebetulan sedang mengajar menghentikan pelajarannya.

 

“nah, sampai di sini saja anak-anak. Ingat kerjakaan tugas dengan baik. Besok kumpulkan dan letakkan di meja songsaenim, ne? Selamat menikmati waktu istirahat.” Ucap Leeteuk Songsaemnim dan segera keluar.

“Luhan-ssi, mau ke kantin bersamaku?” tawar Sehun sopan pada Luhan.

“ne, tentu saja, Sehun-ssi. Kajja, ke kantin.” Ucap Luhan setuju. Luhan dan Sehun segera beranjak menuju kantin.

 

Sepanjang perjalanan banyak siswa mengagumi Luhan dan Sehun yang berjalan berdampingan itu. Luhan yang tampak tampan juga err, cantik itu dengan cepat mendapat perhatian dari orang-orang. Dan Sehun, memang merupakan siswa popular karena tentu saja ketampanannya. Murid lain seakan tak ingin melepaskan pandangannya pada dua namja tampan itu.

Ketenangan kedua namja itu sedikit terusik saat teriakkan seseorang yang sukses akan membuat telinga tuli sementara itu.

 

“TUAN CANTIIIIK! CHANKAMAAAAN!”

 

Seorang yeoja bermata coklat berlari dengan tergopoh-gopoh karena ingin mengejar dua namja itu. Namun, mereka berdua laksana tuli tak mendengar teriakkan yang cukup memekakkan itu. Dengan cueknya berjalan lurus menuju kantin.

“CHANKAMAN! TUAN CANTIK YANG BERSAMA OH SEHUUUUN!”

‘Ok, berarti yang seseorang yang berteriak itu sedang meneriakkiku. Tapi, apa-apaan itu? Tuan cantik?’ geram Luhan dalam hati karena di katai cantik oleh seseorang yang bahkan tak di kenalnya. Luhan berbalik untuk melihat siapa yang meneriakkinya.

Yeoja itu terus berlari menghampiri Luhan. Tangan kanannya melambai-lambaikan sebuah dompet berwarna coklat. Luhan merasakan sebuah déjà vu karena sepertinya ia mengenal yeoja bermata coklat itu. Memori otaknya berputar untuk mencari tahu siapa dia. Dan, bingo! Ia ingat!

‘Yeoja yang bertabrakkan dengan ku kemarin, kan? Ada apa?’ gumam Luhan dalam hati. Sehun hanya diam.

“Yaa! Tuan cantik, hosh, kakimu itu, hosh, terbuat dari, hosh, apa sih? Kenapa kau, hosh, sangat cepat, hosh, berjalannya?” protesnya terengah-engah lantaran berlari-lari di sepanjang koridor.

“Kau saja yang lambat berjalan.” Sahut Luhan. “sudah apa yang kau inginkan? Aku tak punya banyak waktu.” Lanjut Luhan agak ketus.

“Aiissh! Kau jahat sekali. Ini! Aku Cuma ingin mengembalikan dompet mu yang tertinggal kemarin. Saat aku ingin mengembalikannya kau malah melaju dengan mobil merah mu itu. Tapi, tak ku sangka kita bertemu lagi. Hehehe. Ini.” Ucap yeoja yang ternyata Taeyeon itu sambil memberikan dompet Luhan yang ada padanya.

“Ne, gomawo. Isinya tak kau ambil, kan?” sindir Luhan pada Taeyeon

“Ya, tuan cantik! Kenapa kau malah menuduhku mengambil uang mu? Tentu saja aku tak mengambilnya. Memangnya aku ada tampang pencuri?” protes Taeyeon.

“Namaku Luhan. Berhenti memanggilku ‘tuan cantik’. Aku ini namja.” Kesal Luhan karena dari tadi yeoja ini memanggilnya ‘tuan cantik’.

“Tapi kau cantik, tuan.” Bela Taeyeon. “Nah, aku pergi dulu, ne. Sampai jumpa Sehun sunbae, tuan cantik. Bye!” Tae Yeon segera berlari setelah pamit pada Sehun dan Luhan.

“Memangnya siapa sih dia?” tanya Luhan pada Sehun.

“Dia adik kelas kita. Namanya Kim Taeyeon. Biasanya di sapa Taeyeon. Yah, dia memang hyperactive. Selain cantik dan cerdas, tentu saja.” Balas Sehun kurang minat.

“Ya sudahlah. Tidak usah di pikirkan. Kajja, bukannya kau mengajakku ke kantin.” Ucap Luhan mengalihkan pembicaraan.

“Ne, kajja.”

 

.

.

 

“Taeyeon, siapa dia? Kenapa kau meneriakkinya ‘tuan cantik’?” tanya Yuri pada Taeyeon saat sedang makan siang bersama di taman sekolah.

“Ah, dia itu orang yang ku tabrak —atau menabrakku— kemarin di taman kota. Dan saat itu aku melihat dompetnya terjatuh. Saat aku ingin mengembalikannya, ia malah melaju dengan mobilnya. Yah, akhirnya ku bawa pulang agar bisa ku kembalikan nanti. Dan ternyata, aku malah bertemu dengannya di sekolah kita. Haha, lucu ya?” jelas Taeyeon secara panjang lebar dan di akhiri dengan gelak tawa.

“Dia lumayan tampan juga.” Komentar Sooyoung.

“Dia bukannya tampan, tapi cantik.” Koreksi Taeyeon.

“Ne, tapi dia juga masuk dalam kategori tampan, lho.”

“Sudahlah, buat apa membicarakannya? Kalian mau Kai dan Chanyeol mengetahui bahwa kalian sedang memuji namja lain?”

“Andweee! Tentu saja tidak!” jerit Yuri dan Sooyoung bersamaan. Taeyeon tertawa keras.

“Huahahaha, coba lihat muka kalian yang ketakutan itu. puffh!” ejek Taeyeon yang langsung dibalas deathglare mematikan dari Yuri dan Sooyoung.

“Dasar evil!” jerit keduanya (lagi).

“haha!”

 

 

Luhan sedang berjalan sendirian menuju rumahnya. Karena rumahnya bisa di bilang dekat dengan sekolah, Luhan memilih untuk berjalan kaki. Hitung-hitung olahraga sekalian bisa menghemat biaya transportasi.

 

“TUAN CANTIIIK! CHANKAMAAAN!”

 

CKIIIT!

 

Luhan terlonjak kaget saat ia mendengar seseorang berteriak dan tiba-tiba sebuah sepeda berhenti di sampingnya. Seorang yeoja yang merupakan penunggang sepeda itu tersenyum pada Luhan. Yang dibalas tatapan heran dari Luhan.

 

“Annyeong, tuan cantik. Hehe, mau pulang bersama?” tawar yeoja yang ternyata adalah Taeyeon.

Luhan menautkan alisnya. “Hah? Aku tidak lihat aku berjalan kaki? Sedangkan kau bersepeda. Bagaimana bisa kau mengajakku pulang bersama?”

“Astaga, tuan cantik. Kita kan bisa bersepeda bersama. Kau kira aku tidak bisa boncengan, begitu? Walaupun aku yeoja, jangan kira urusan bonceng-membonceng ini aku tidak bisa. Seorang Taeyeon bisa melakukan apapun yang ia mau.” Ucap Taeyeon membanggakan diri sembari menepuk dadanya. Luhan menaikkan sebelah alisnya.

“Kau yakin kau bisa berboncengan?”

“Ne, 100% yakin. Ayo naik!” serunya bersemangat. Luhan tanpa pikir panjang langsung mendudukkan tubuhnya di boncengan sepeda milik Taeyeon.

“Siap?”

“Ne”

 

Taeyeon segera melajukan sepedanya. Agaknya itu membuat Luhan terkaget dan hampir terjatuh.

 

“Yaa! Berhati-hatilah kau, idiot! Kau ingin aku jatuh?!” protes Luhan.

“Makanya pegangan, tuan cantik!” balas Taeyeon. Luhan segera mendekap pinggang ramping Taeyeon. Dan bukannya deg-degan seperti kebanyakan yeoja yang di peluk oleh pria tampan, Taeyeon malah kegelian.

 

“Ahaha! Jangan sentuh itu, tuan cantik! Aku geli!” jeritnya. Luhan melepaskan pegangan dan bertanya.

“Lalu aku pegang yang mana?”

“Aish! Yang mana saja! Asal jangan pingang ku!”

“Tuan cantik.” Panggil Taeyeon.

“Hm?” gumaman tidak jelas keluar dari mulut Luhan sebagai balasan.

“Kau ini berat sekali. Kebanyakan dosa, ne?” komentar Taeyeon polos. Andai Luhan tak ingat kalau Taeyeon ini yeoja, maka ia dengan senang hati menggebuk dan menjitak Taeyeon.

 

.

 

“Tuan cantik, rumahmu di mana?” tanya Taeyeon yang masih menggoes sepeda miliknya.

“Terus saja. Ketika aku bilang berhenti, maka kau harus berhenti.”

 

CKIIT!

BRUKH!

 

“Appo!” jerit Luhan saat hidungnya menabrak punggung Taeyeon di karenakan Taeyeon yang mengerem tiba-tiba. “Kenapa kau tiba-tiba berhenti?”

“Kan kau sendiri yang bilang, ketika kau bilang ‘berhenti’, maka kau harus berhenti. Nah, ini pasti rumahmu. Kajja turun!” balas Taeyeon polos dan sok tau. Luhan yang mendengar hal itu segera mencubit kedua pipi chubby milik Taeyeon dengan gemas. Taeyeon menjerit kesakitan saat pipinya di’siksa’ Luhan.

“Appo! Yaa! Kenapa mencubit pipiku?” Taeyeon cemberut sambil mengelus-elus pipinya yang kini memerah akibat cubitan Luhan yang memang lumayan keras.

“Ck! Rumahku bukan yang ini. Cepat jalan lagi! Akan ku tunjukkan yang mana rumahku!”

“Hufh! Ne, ne!”

 

.

 

“Yap! Berhenti di sini!”

 

CKIIT!

BRUKH!

 

“Yaa! Bisakah kau membawa sepeda dengan pelan?” protes Luhan saat Taeyeon kembali melakukan pengeraman tiba-tiba. Sukses membuat hidung Luhan kembali membentur punggung Taeyeon.

“Yaa! Tuan cantik, hidungmu itu terbuat dari apa sih? Kayu? Besi? Punggung ku sangat sakit!” Taeyeon ikut protes.

“Hah, sudahlah. Gamsahamnida, ne. Kau boleh pulang.”

“Ne. Annyeong, tuan cantik.”

“Luhan.” Koreksi Luhan.

“Whatever.”

 

 

Sudah seminggu Luhan bersekolah di sekolahnya yang baru. Dan selama itu, Luhan merasa Taeyeon selalu mengikutinya. Saat ia berjalan bersama Sehun, ia tinggal menengok sedikit, maka Luhan akan menemukan Taeyeon dengan cengiran polos dan bodoh miliknya. Ketika sedang di kantin, di perpustakaan, di atas sekolah, bahkan di jalan pulang sekolah. Luhan merasa dirinya di awasi. Dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.

Saat itu, Luhan sedang mengikuti club sepak bola. Akibatnya ia pulang sore hampir malam. Tapi itu tak lantas membuatnya takut. Ia sudah terbiasa pulang sendiri. Padahal club sudah bubar sekitar 1 jam yang lalu. Tapi, Luhan masih betah saja berada di club.

Setelah selesai beristirahat, Luhan memutuskan untuk segera pulang. Eommanya sudah berkali-kali menelpon untuk menanyakan kapan ia pulang. Luhan menghela nafas lelah. Ia segera mengenakan tas punggungnya dan berjalan pulang.

 

“Annyeong, tuan cantik.”

 

Luhan agak terlonjak mendengar suara yang amat familiar di telinganya. Suara yang —menurutnya— menyebalkan itu kembali menyapanya. Luhan menatap malas ke arah Taeyeon yang masih nyengir tidak jelas. Luhan merotasi matanya.

“Kenapa kau belum pulang? Ini sudah malam. Perempuan itu tidak bagus jika masih berkeliaran waktu malam. Seperti wanita malam saja.” Ucap Luhan datar dan dingin. Perkataan itu membuat Taeyeon sedikit tersentak. Tapi, ia tatap menyunggingkan senyum manisnya.

“Ah, aku kan menunggu tuan cantik. Agar bisa pulang bersama.”

“Jadi kau akan menungguku?”

“Ne.”

“Kalaupun aku pulang jam 1 pagi?”

“Err, ne.”

“Dengar, mulai besok, jangan menungguku, jangan menggangguku, atapuan muncul di hadapanku lagi! Awas!” ancam Luhan. Taeyeon kembali tersentak mendengar ancaman Luhan.

“Wae?”

“Aku tidak suka!”

 

Taeyeon tertunduk mendengar perkataan Luhan. Luhan tak ambil pusing. Ia segera bergegas pulang. Ia tak ingin perduli akan keadaan Taeyeon. Mau ia pulang atau tidak, ia sama sekali bukan urusan Luhan. Memangnya ia siapanya Taeyeon? Teman? Bukan. Kekasih? Apalagi. Keluarga? Tidak. Jadi, buat apa ia perduli?

 

.

.

 

Untuk beberapa hari ini, Luhan merasa Taeyeon tak lagi mengikutinya. Sebagian sisi Luhan tentu saja senang dengan hal itu. Tapi, ia tak dapat memungkiri, bahwa sebagian dirinya merasa sedikit kehilangan. Jika biasanya ia selalu bisa melihat Taeyeon memandangnya sambil menunjukkan cengiran bodoh miliknya. Jika biasanya Luhan selalu mendengar suara milik Taeyeon. Maka untuk beberapa hari ini, ia tak mendapatkan itu.

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia mengingat yeoja itu. Yeoja yang tanpa sengaja di temuinya. Luhan memandangi dompet miliknya. Dompet ini yang berjasa mempertemukan Luhan dengan Taeyeon. Luhan tak tahu harus bersyukur atau mengatakan ini sebuah kesialan.

 

“Lu, wae? Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang serius.” Sehun menepuk pundak Luhan. Membuat sang korban terlonjak kaget.

“Ya! Kenapa kau mengagetkan ku, idiot!” protes Luhan.

“Jadi, tadi kau melamun? Dan tak mendengarkan apa yang ku katakan?”

“Bisa jadi.”

“Huff! Sudahlah. Jadi, ada apa dengan mu, Lu? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu yang serius.” Ucap Sehun mengulang perkataannya tadi. Luhan menatap Sehun dengan ragu. Apa ia harus bercerita, ya?

“Um, sebenarnya iya. Aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Luhan.

“Keberatan untuk bercerita?”

“Tidak. Tapi, sebaiknya jangan di sini.”

“Baiklah, kajja ke atas atap. Di sana pasti aman.” Saran Sehun. Luhan mengangguk setuju.

 

.

.

 

“Astaga?! Benarkah apa yang kau katakan, Lu?”

 

Sehun seketika lupa akan image dirinya yang biasa cool dan tenang. Kini ia malah berteriak lantaran terkejut dengan apa yang di katakan Luhan. Luhan hanya diam dan mengangguk.

 

“Ya Tuhan. Apa kau tidak pernah tahu kalau perasaan seorang yeoja itu sangat halus? Sekali kau melukainya, maka ia akan terus terluka, Lu. Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau menyakitinya.” Sehun sekarang berlagak seperti seorang appa yang tengah menasehati anaknya.

“Sehun, bukan maksud ku bersikap seperti itu. Aku hanya ingin ia mengerti kalau aku tidak suka ia ada di dekat ku. Bukan bermaksud menyakitinya.” Bela Luhan.

“Tapi, kau bisa memberi penjelasan dengan baik-baik, kan? Bukan dengan membentaknya.” Ucap Sehun.

“Ne, ne. Aku mengaku kalau aku salah, Hun. Bisakah kau memberi nasehat bukan malah men-judge diriku.” Kesal Luhan karena dari tadi Sehun terus menerus menghakimi dirinya. Ya, Luhan mengaku jika ia salah. Tapi, sungguh, ia bukan bermaksud seperti itu.

“Seharusnya kau mengatakan itu pada Taeyeon, Lu. Bukan padaku.” Ujar Sehun.

“Bagaimana aku bisa mengatakan padanya. Seminggu ini aku hampir tak pernah melihatnya. Oh, bukan hampir. Tapi, aku memang tidak melihatnya.” Seru Luhan agak frustasi. Ia tak pernah merasa sebersalah ini pada seseorang. Entah apa yang di miliki yeoja menyebalkan itu sehingga Luhan stress begini memikirkannya.

“Kau tak mengecek di kelasnya?” tanya Sehun.

“Ani. Aku bahkan tidak tahu di kelas mana dia berada.”

 

PUK!

 

Sebuah pukulan mendarat di kepala Luhan. Berasal dari tangan Sehun yang kesal karena kebodohan temannya satu ini.

 

“Ugh! Apa-apaan kau, Hun?! Sakit, idiot!” seru Luhan tidak terima.

“Lantas, apa yang kau lakukan selama ini, Lu? Diam saja menunggu ia akan keluar kembali?”

“Iya, ku rasa.”

“Dengar Lu, aku memang tak pernah tahu apa sebenarnya kepribadianmu. Mengingat kau baru saja berada di sekolah ini. Tapi, jika di lihat-lihat, sepertinya Taeyon menyukaimu. Dengan kelakuannya yang sering muncul itu mungkin memberikan kesan bahwa ia selalu memperhatikanmu. Bagaimana ia selalu membuatmu kesal karena ingin kau melihat padanya. Sayangnya, kau saja yang kurang peka.” Ucap Sehun panjang lebar.

Luhan terkejut mendengar perkataan Sehun. “Dia? Menyukai ku? Yang benar saja, Hun.” Elak Luhan.

“Aku melihatnya, Lu. Seperti yang kau bilang tadi, kau tidak peka. Makanya, cobalah sedikit memperhatikannya. Lihat pancaran matanya, ia menyukaimu.”

“Lantas, aku harus bagaimana?”

“Itu terserahmu. Kalau kau suka dengannya, tembak saja dia. Kalau terlalu lama ia akan bosan menunggu dan akhirnya ia akan berpaling darimu.” Saran Sehun.

 

Luhan terdiam mendengar perkataan Sehun. Entah kenapa hatinya seperti menginginkan sosok Taeyeon. Ada ruang kosong di hatinya menyuruhnya untuk mengisi dengan sosok Taeyeon.

 

.

.

 

Taeyeon memasuki lapangan sekolah dengan hati-hati. Kepalanya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu atau seseorang. Saat di rasanya tak ada yang melihatnya, Taeyeon menghela nafas lega.

Ya, setelah ultimatum yang di berikan Luhan, Taeyeon sekuat tenaga menghindari dari sosok Luhan. Mulai dari datang sangat pagi, pulang dengan cepat, dan menghindari Luhan ketika ia melihat Luhan dari kejauhan. Bahkan ia pernah rela putar balik dan melewati belakang sekolah untuk ke kantin lantaran ia melihat Luhan dan Sehun yang keluar dari kelas mereka.

Taeyeon cukup tahu diri saja kalau kehadirannya sangat tidak di inginkan Luhan. Sehingga ia rela menjauhkan dirinya dari hadapan Luhan.

Tanpa di ketahui oleh Taeyeon, Luhan ternyata melihatnya. Luhan mengernyit bingung saat melihat tingkah Taeyeon yang sepertinya sedang berwaspada. Karena penasaran, Luhan berjalan cepat dan menghampiri Taeyeon. Ia menepuk pundak Taeyeon tiba-tiba.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Luhan.

“Kyaaa!”

 

Taeyeon berteriak nyaring lantaran kaget sehingga membuat Luhan menutup telinganya. Taeyeon melotot saat ia melihat Luhan ada di depannya. Ia tertangkap basah. Pasti Luhan akan memarahinya karena menganggap Taeyeon tak menepati perkataannya untuk jauh dari Luhan.

 

“Tu-tuan c-ca-cantik?”

 

Tergagap, Taeyeon memanggil Luhan dengan panggilan biasanya.

 

Taeyeon terkaget saat melihat senyuman Luhan. Sumpah demi apapun, Taeyeon merasa senyuman Luhan terlihat sangat manly dan tampan. Sungguh berbanding terbalik dengan mukanya yang terlihat cantik. Taeyeon membalasnya dengan senyuman kikuk. Taeyeon menggaruk belakang kepalanya canggung.

Taeyeon terbelalak saat ia merasakan tarikkan dan tiba-tiba saja ia berada dalam pelukkan Luhan. Otaknya seperti biasa berjalan dengan lambat. Hingga butuh beberapa saat ia mengerti.

 

“T-ttt-tuan c-ccan-ccantik?”

“Jangan pergi. Jebal, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tahu aku salah karena membentak mu dulu. Aku tahu kau tak salah sedikitpun. Kau berhak mendekati ku. Aku salah, mianhamnida. Jebal, jangan pergi.” Ucap Luhan panjang lebar. Dan seperti biasa lagi, otak polos nan lambat milik Taeyeon akan loading beberapa saat.

“Ahaha, gwenchana, tuan cantik. Jadi, err, bisa lepaskan aku?” ucap Taeyeon saat merasa tak nyaman harus berada dalam pelukkan Luhan.

“Kau memaafkan ku, kan?” tanya Luhan.

“tentu saja.” Ucap Tae Yeon ceria.

 

Cup~

 

Luhan mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir Taeyeon dan tentu saja masih loading dalam otak Taeyeon. Sebelum akhirnya ia menatap Luhan tak percaya.

 

“Saranghae. Aku tau sekarang, aku tahu kenapa aku tak bisa jauh darimu. Itu karena aku mencintamu.” Ucap Luhan dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Taeyeon. Kali ini sedikit lebih dalam dan lebih lama dari awal.

 

Taeyeon ikut memejamkan matanya saat melihat Luhan memejamkan matanya. Keduanya terlarut dalam ciuman yang dalam sebelum akhirnya mereka mendengar suara cekikkan dari beberapa orang. Luhan dan Taeyeon melepaskan ciuman mereka dan mendapati Sehun, Yuri, Sooyoung, Kai, dan Chanyeol berada tak jauh dari mereka.

 

“Err, aku bisa menjelaskan semuanya. Jadi, begini aku dan Lu—”

“Kami resmi jadian.” Ucapan Luhan membuat Taeyeon membelalakkan matanya dengan pipi memerah. Ia memukul dada bidang Luhan.

“Aish, kenapa kau bilang pada mereka? Aku malu, idiot!” kesal Taeyeon. Luhan hanya tertawa.

“Sudahlah, mereka juga terlanjur melihat kita berciuman, kan? Buat apa di tutup-tutupi lagi.” Ucap Luhan. Taeyeon merasa pipinya kembali memerah.

“T-te-terserah.”

 

FIN

Gimana chingu ceritanya??? MUdah-mudahan kalian suka ya.

RCL nya ditunggu ya ^_^

12 comments

  1. Haru-Chan · June 2, 2014

    ihihihi keren thor…JOA!!!!

  2. Mellyana · June 3, 2014

    Annyeong author nim.. salam kenal aku new reader.. mw ijin bca ff yg cast Utama Taeyeon ne

  3. erahmaliati21 · June 5, 2014

    DAEBAK, LUTAEEEE <33333
    suka banget sama alurnya yg mengalir bagaikan air#plak
    bahasanya jg gampang dicerna, enak(?) liatnya hehe😀
    kapan2 bikin lg yaa thor~
    fighting!!^^

  4. putriwardania29 · June 10, 2014

    Iih lucu romance aaaa sumpah aku suka alur ceritanya aku ampe terharu/? Keren thor seru!

  5. rilla · June 10, 2014

    daebak,keren,lucu,jjang
    suka bgt🙂

  6. Indah BSW · June 11, 2014

    Wah daebak bgt ff.ny..
    Bikin ff lutae lg dong..🙂

  7. miam · August 23, 2014

    agak nyesek tau taeyeon jauhin luhan, tapi itu yang bikin feel nya dapet, daebak thorrrrrrr

  8. shafira vanya · August 11, 2015

    Omooo!!! So sweet Bangett ^__^ Sumpahhh Feel nyaa dapet Banget Thor😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s